oleh

Lebaran Kupatan, Tradisi Peninggalan Sunan Kalijaga Yang Penu Makna

Seorang Ibu yang tetap melestarikan budaya membuat selongsong kupat sendiri walau jemari tanganya sakit(susilo/beritatrends)

Beritatrends, Mojokerto – Masyarakat jawa secara turun temurun melaksankan kupatan(basa;jawa)yang maknanya melaksanakan hari raya kupat dengan menyajikan makanan berupa lontong dari bahan beras,dibungkus dengan selongsong anyaman daun kelapa yang masih muda (jawa;janur ).

Salah seorang warga desa sampangagung Riani(59) mengatakan kepada wartawan,Senin(17/5/2021) bahwa Ia masih membuat sendiri anyaman kupat dari daun kelapa yang masih muda(jawa;janur).

“Mulai tahun 1980,saya buat sendiri bungkus lontong kupat dari daun kelapa untuk lebaran kupatan setiap tahunnya,”ujarnya.

Lebih lanjut Riani bercerita bahwa Ia belajar membuat selongsong anyaman dari daun kelapa untuk bungkus kupat,dari mulai kelahiran anak pertamanya,dan menurutnya Ia belajar dari sesepuh desa tempat tinggal almarhum suaminya di desa Pesangrahan Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto.

“Tapi sekarang saya buatnya dibantu saudara karena jemari tangan sudah agak sakit,jadi lama kalau saya buat sendiri,”teranganya.

Perlu diketahui mayoritas masyarakat desa membuat sendiri selongsong anyaman, lalu diisi dengan beras dan dimasak dalam rendaman air.

Biasanya ketupat hanya disajikan sewaktu lebaran dan hingga lima hari (Jawa, sepasar) sesudahnya. Bahkan ada beberapa daerah di Pulau Jawa yang hanya menyajikan ketupat pada hari ketujuh sesudah lebaran saja.

Dan biasa disebut dengan Hari Raya Kupatan.

Makanan berupa Ketupat sering dihidangkan bersama opor ayam, sambal goreng ati, semur daging, dan beberapa menu makanan kas jawa lainnya.

“Ketupat memiliki beberapa arti:

Pertama, mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat.

Kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua.

Ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Tradisi ketupat (basa jawa;kupat) lebaran menurut cerita adalah simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan) jadi makna kupat mengandung arti mengakui kesalahan(basa jawa:ngaku lepat/salah).

Kata tersebut,yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam mensyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat.

Ngaku lepat ini merupakan tradisi sungkeman yang menjadi implementasi mengakui kesalahan (ngaku lepat) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun atas dosa atau kesalahan yang di sengaja maupun tidak disengaja.

Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan lebaran. Empat tindakan tersebut adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Arti dari masing-masing kata ini adalah:

Pertama, Lebaran yaitu tindakan yang berarti telah selesai yang diambil dari kata lebar. Selesai dalam menjalani ibadah puasa dan diperbolehkan untuk menikmati makanan.

Kedua, Luberan berarti meluber, melimpah yang menyimbolkan agar melakukan sedekah dengan ikhlas bagaikan air yang berlimpah meluber dari wadahnya. Oleh karena itu tradisi membagikan sedekah di hari raya Idul Fitri menjadi kebiasaan umat Islam di Indonesia.

Ketiga Leburan,memiliki makna habis dan melebur. Maksudnya saat lebaran, dosa dan kesalahan kamu akan melebur habis. Karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain baik tua maupun muda.

Keempat laburan,adalah labor (jawa; kapur). Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya adalah agar manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Itulah cara yang dilakukan oleh para walisongo dalam mendakwahkan ajaran Islam yang ramah tanpa marah apalagi mengatakan bid’ah. Sehingga masyarakat Nusantara tidak merasa terusik dengan adanya Islam.

Masyarakat akhirnya,mau menerima ajaran Islam yang saat ini menjadi agama mayoritas di bumi Nusantara.(sus)