oleh

Bapak PPL Kabupaten Landak, Mohon Bimbingan Agar Produksi Meningkat Karena Masa Tanam Tahun Kemarin Gagal Panen

ilustrasi hasil panen yang tak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan

Beritatrends, Landak – Kehadiran varietas Inpari 42 Agritan GSR (Green Super Rice) mendapat sambutan positif dari petani di seluruh kabupaten di Indonesia. Selain produktivitasnya tinggi, varietas yang dilepas Badan Litbang Pertanian pada 2016 ini mudah dalam perawyanatan dan tahan hama.

Pengenalan varietas unggul baru (VUB) hingga bisa diterima petani di seluruh Kabupaten tak lepas dari peran Mantri Pertanian dan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Awalnya inovasi-inovasi varietas baru kepada petani sulit diterima oleh petani tapi pihak pemerintah mencoba terus, agar petani tidak monoton menanam varietas itu saja. Sebab kalau terlalu lama tidak ada pergiliran tanaman akan rentan terhadap hama dan penyakit.

Salah satu petani di Wilayah Kabupaten Landak tepatnya di Dusun Sake, Desa Sampuro, Kecamatan Mempawah Hulu,  Yohan mengaatakan, petani berbiaya tinggi menanam  bibit unggul  inpari 42, dengan bibit 35 kilogram dengan perlakuan  penanaman dan pemupukan berimbang  sesuai aturan dan tata tanam menurut arahan PPL, dari persemaian berumur  28 hari  saat di pindahkan ke lahan, di luasan lahan 1 ha, pupuk  200 kilogram,  biaya  traktor  Rp. 500.000,-  HOK 38 hari untuk  menanam,  38 Hok untuk  panen ,  biaya makan minum pekerja Rp. 600 .000,- sekali kegiatan,  ditambah biaya racun rumput sampai racun hama  sebesar Rp. 220.000,- sehingga semua biaya yang di keluarkan dalam satu kali rotasi masa tanam dalam satu hektare lahan sawah sebesar  Rp. 8.670.000.

“Namun pendapatan hanya  200 kilogram dengan harga gabah kering panen Rp. 4.500,- per kilo, artinya hanya dapat Rp. 900.000,-,”keluh Yohan.

Sebelumnya saya  masih bisa maksimal 1.250 kilo gabah kering panen , dengan pendapatan  Rp. 5.625.000,-

“Artinya kalau dihitung secara Argo pertanian , kita sangat mines, bahkan pendapatan kami selalu menurun dari masa tanam berikutnya, banyak paktor, utamanya dugaan pertama  mutu bibit dalam trip pengadaan itu di duga ada  bibit yang kurang baik ada yang baik, mungkin saya dapat yang kurang baik, tahun tanam ini kemarin saya pakai inpari 42,”ucap Yohan.

Yohan saat menunjuk hasil panennya tahun ini hanya 5 karung

Faktor lainnya, sistem perolehan  pupuk yang kadang saat masa tanam tiba, pupuk langka, dan di dusun belum ada kios Gapoktan untuk Saprodi, kadang kita terlambat dapat pupuk, bahwa kami pun  bertani secara otodidak.

“Kurang pengawasan dan panduan  dari team tehnik , PPL sejak satu tahun terahir di masa  covid ini bahkan tidak ada kegiatan pertemuan Tatap muka PPL dengan poktan,”kata Yohan.

Itulah yang jadi keluhan kami petani di Dusun Sake, Desa Sampuro, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak.

“Mohon lah dicarikan formula dan  mekanisme yang tepat untuk mengatasi dan mencari terobosan yang  dapat meningkatkan  produksi kami,”pungkas Yohan.(Dominikus Tolek)

News Feed