oleh

FKMP Desa Tiron Desak Pemkab Madiun Tutup Pabrik Plastik Samiplast Mitra Makmur

Temui—Kepala Desa Tiron, Retno Setyowati menemui perwakilan Forum Komunikasi Masyarakat Peduli (FKMP) Desa Tiron mendesak Pemerintah Kabupaten Madiun menutup Pabrik Plastik Samiplast Mitra Makmur .

Beritatrends, Madiun – Forum Komunikasi Masyarakat Peduli (FKMP) Desa Tiron mendesak Pemerintah Kabupaten Madiun menutup Pabrik Plastik Samiplast Mitra Makmur .

Tuntutan itu disampaikan FKMP Desa Tiron menyusul hilangnya jalan desa pasca pabrik plastik berdiri dan pembangunan pabrik yang tidak sesuai dengan peraturan daerah Kabupaten Madiun.

“Tuntutan warga ditutup. Lokasi yang didirikan pabrik bukan zonasi untuk pendirian industry. Sesuai peraturan daerah Kabupaten Madiun zona industri berada didekat Caruban (Pilangkenceng),” kata Koordinator Advokasi FKMP Desa Tiron, Dhany Nartawan kepada wartawan di Kantor Desa Tiron, Kamis (18/2/2021).

Sejumlah warga mendatangi Kantor Desa Tiron mempertanyakan beroperasinya Pabrik Plastik Samiplast Mitra Makmur.

Warga merasa dirugikan dengan keberadaan pabrik tersebut lantaran hilangnya jalan desa. Warga juga mulai merasakan aroma tidak sedap saat malam hari yang diduga berasal dari Pabrik Plastik Samiplast Mitra Makmur.
Dhany juga mempertanyakan pemberian ijin pendirian pabrik. Padahal warga yang berada disekitar pabrik banyak tidak memberikan persetujuan pendirian pabrik plastik tersebut.

Pabrik Plastik—Inilah lokasi Pabrik Plastik Samiplast Mitra Makmur yang dituntut warga untuk ditutup

Justru warga menemukan beberap orang yang tanda tangan terkait mekanisme pendirian pabrik persetujuan mayoritas masyarakat yang jauh tinggalnya dari lokasi pabrik.

“Bahkan ada temuan lagi bukan warga Tiron tetapi ikut menandatangni perstujuan pendirian pabrik,” ungkap Dhany.
Pasca pabrik beroperasi, lanjut Dhany, warga mulai mencium aroma plastik yang dibakar. Selain itu warga mulai merasa terganggu dengan suara bising mesin pabrik.

Selain menutup pabrik, demikian Dhany, warga meminta jalan desa yang dahulunya menghubungkan masyarakat ke jalan propinsi harus dihidupkan kembali.

“Masyarakat peduli lingkungan. Dan masyarakat tidak minta kompensasi karena warga menginginkan lingkungan sehat seperti era dulu,” jelas Dhany.

Dhany menambahkan sertifikat tanah tahun 1973 yang saat ini didirikan pabrik plastik terlihat jalan desa ada tulisan jalan. Selain itu tampak ada ruasnya jalan yang menghubungkan pemukiman warga ke jalan propinsi.

“Tetapi setelah berdiri pabrik tersebut, jalan itu malah tertutup oleh pagar beton permanen yang tinggi karena didalamnya ada bangunan fisik pabrik plastik,” jelas Dhany.

Senada dengan Dhany, Yatirin warga setempat mengaku kesal ruas jalan desa itu tiba-tiba hilang setelah pabrik plastik tersebut berdiri. Padahal ruas jalan itu sangat vital bagi warga Desa Tiron.

Sementara itu Edi warga lainnya mengaku dirinya tidak pernah dimintai persetujuan atau koordinasi terkait penutupan jalan desa. Padahal dalam sertifikat tanah terlihat jelas keberadaan jalan desa yang diperuntukkan bagi warga.

Mediasi

Kepala Desa Tiron, Retno Setyowati yang dikonfirmasi terpisah mengatakan pemerintah desa akan memediasi FKMP Desa Tiron dengan pihak terkait secepatnya.

“Pertemuan nanti akan mengundang dari pihak pabrik, BPN, polisi hingga Dinas Perijinan Pemkab Madiun,” ungkap Retno.

Tak hanya itu, pemerintah desa juga akan mengundang mantan kepala desa yang menjabat saat proses pabrik didirikan. Pasalnya, saat pabrik didirikan, Retno belum menjabat Kepala Desa Tiron.(Mal)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed