oleh

Timanggong dan Demong Adat Bukan Bawahan DAD

Saat Seminar pemberdayaan Timanggong dan Demong Adat se – Kabupaten Ketapang

Beritatrends, Ketapang – Seminar pemberdayaan Timanggong dan Demong Adat se – Kabupaten Ketapang, yang di laksanakan di Kecamatan Air Upas pada Tanggal 27 sampai 29 November 2020 yang lalu.

Acara dihadiri oleh Timanggong, Demong Adat se – Kabupaten Ketapang, Sanusi Ringo mempertegas bahwa Timanggong Adat itu lebih tua dan ada sejak Talino Dayak ada di muka bumi.

“Timanggonglah yang menata tatanan adat di binua yang dipimpinnya, jabatannya sakral dan sampai saat ini masih exsis, selogannya bahwa Timanggong itu adalah Hakim Adat yang menyelesaikan masalah tanpa pidana,”ucap Sanusi Ringo.

Masa jabatannya yang sebenarnya sampai tidak mampu secara fisik, hanya saja di jaman modernisasi ini, terhubung di masa jabatan politisnya Pemerintahan Desa yang pada beberapa tahun terahir mengaitkan jabatan Timanggong seolah-olah jabatan politik, itu disederhanakan menjadi 5 tahun, dan bisa dipilih kembali, itu sebenarnya sudah terkontaminasi.

“Syarat untuk jadi Timanggong itu harus bersih dari akhlak, baik tutur katanya, arif, bijaksana, disegani, sudah dewasa, sudah pesta adat baulakng, faham hukum adat (bisa belajar memperdalam) bahkan terdahulu ada garis keturunan Timanggong,”terangnya.

Dan secara otoritas hubungan kelembagaan dengan DAD, MADN ,ORMAS DAYAK, Kitalah yang tertua, Ketimanggongan punya AD/ART tersendiri dan tidak bisa di intervensi oleh organisasi dayak lainnya, kita berdiri sendiri, dan kami bukan bawahan DAD, yang ada dan benar itu adalah mitra, hubungannya hanya garis kordinasi dan komunikasi, bukan garis komando.

Ditanya soal DAD, yang terang – terangan menyampaikan dan memberikan dukungan ke salah stu Calon Bupati, itu urusan mereka, kalau menurut saya itu sudah melenceng, harusnya DAD Ketapang itu Netral, makanya saya selaku ketua Forum Ketimanggongan Adat Dayak Provinsi Kalbar mempertegas, bahwa kami Timanggong tidak latah dan ikut-ikutan.

“Kami juga tahu apa yang sudah diberikan ke Timanggong dan Demong se-Kabupaten Ketapang, tidak adakan, pembinaan juga tak dirasakan oleh para Demong, kalaupun ada harmonisasi itu dari fihak ke 3, itupun pastinya sudah dikemas sampai di tingkat DAD Kabupaten Ketapang, mungkin saja, intinya Timanggong dan Demong Adat tak ada dapat pembinaan, baju Kebesaran saja tak ada diakomodir,”jelas Sanusi Ringgo.

Ditempat yang sama Yosef Ahok selaku tokoh masyarakat yang juga faham adat dan budaya rumpun sub suku Dayak di Ketapang medngatakan, bahwa memang Demong di Ketapang nyaris hanya ada didengar tapi tidak dibina oleh Pemerintah Ketapang, adanya hanya gaung DAD yang segar, apakah karena Bupatinya terdahulu merangkap ketua DAD.

“Makanya kita akan satukan presefsi bahwa kalau Bupati terpilih 09 Desember 2020 mendatang, kita minta Timanggong dan Demong Adat di Kabupaten Ketapang agar diakomodir di Kesbangpol, agar bisa maksimal bantu Pemerintah dalam menciptakan kedamaian dan tetap menjunjung tinggi nilai luhur adat istiadat dalam memutuskan perkara adat, dengan selogan , kita tolak preman hukum adat, kita berpedoman pada panduan Buku Musdat dan berpatokan pada AD/ART Forum Ketimanggongan,”kata Yosef Ahok.

Di confirmasi ke Calon Bupati dan Wakil Bupati Ketapang 2020, terkait pengajuan hasil rumusan seminar, calon wakil Bupati no urut 03 Matius Yudi mengatakan, kalau untuk mengakomodir Forum Timanggong di masa Pemerintahannya nanti, bila terpilih.

“Pihaknya yang juga mantan anggotta DPRD dari fraksi PDIP Asal Putra Simpang Dua, mempertegas itu pasti terakomodir di Kesbangpol, apalagi AD/ART nya jelas dan terpisah, itu sejalan dengan misi visi kami, yang menghargai kearifan lokal,”ucapnya

Di sesi terahir Lorensius Majun. M.Si, pemateri yang berpengalaman mengulas dan menutup rangkaian acara, kita tetap solid. Sembari memperlihatkan sertifikat peserta. “Kita akan serahkan menyusul, acara kita legal , itu ada berbagai spanduk dan baleho ucapan selamat, termasuk dari Pj bupati ketapang,”pungkas Lorensius Majun. (Dominikus Tolek)

News Feed