oleh

RESAH DENGAN KONDISI BANGSA GUIB MAGETAN NYATAKAN SIKAP

Beritatrends, Magetan Jawa Timur – Perkembangan dinamisasi kehidupan nasional kebangsaan yang terus berubah membuat resah dan mendorong Gerakan Ummat Islam Bersatu (GUIB) Magetan yang terdiri dari segenap unsur Organisasi Kemasyarakatan Islam, Pondok Pesantren dan Aktivis Pergerakan Islam di Kabupaten Magetan untuk bersikap. “Setelah melakukan kajian strategis dan menimbang masukan dari para ulama dan tokoh Islam Magetan, ada beberapa point sikap GUIB yang perlu disampaikan kepada ummat sebagai panduan arah gerakan, tuntutan kepada pihak-pihak terkait, sekaligus sebagai refleksi strategis, internal Ummat Islam,” ujar KH. Imam Yudhianto, Ketua GUIB Magetan, Selasa (14/07/2020) usai menghadiri Musyawarah konsolidasi Ummat Islam di Al Ikhlas Mantren, Karangrejo, Magetan.

Sesuai Maklumat Dewan Pimpinan MUI yang diperkuat oleh Pernyataan Dewan Pertimbangan MUI, GUIB mendesak kepada DPR RI dan Pemerintah agar Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) dicabut dari Prolegnas. Pancasila sebagai dasar Negara dan falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah final. “Maka kami memantapkan hati untuk mengawal Pancasila dari setiap upaya untuk mengubahnya atau menafsirkan sepihak. Upaya mengotak-atik Pancasila sebagaimana kesepakatan pada 18 Agustus 1945 adalah kontra produktif dan potensial menciptakan pertentangan dalam kehidupan bangsa.” tegas Gus Imam

Berkaitan dengan itu, GUIB meminta kepada DPR dan pemerintah agar tidak mebentuk peraturan dan perundangan yang tidak membawa kemaslahatan masyarakat dan hanya menguntungkan segelintir pengusaha saja seperti RUU Omnibus Law dan UU Minerba. “RUU seperti itu hendaknya untuk ditinjau ulang demi kepentingan kedaulatan negara.” ungkap Gus Imam

Gus imam melanjutkan, bahwa GUIB memohon agar pemerintah khususnya Kemenag dan Kemendikbud untuk tidak mengeluarkan kebijakan yang
bertentangan dengan tujuan dan prinsip pendidikan terutama yang menekankan keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia. Maka kurikulum pendidikan agama tetap diberikan kepada peserta didik sesuai dengan
agamanya oleh pendidik sesuai agama masing-masing. “Kembalikan semua itu ke tujuan pendidikan nasional, agar generasi kita nanti tidak jauh dengan agama.” tegasnya.

Dalam rangka pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran dalam masa pandemi Covid 19, hendaknya pemerintah memberi perhatian sungguh-sungguh untuk menyelamatkan pendidikan nasional terutama di daerah terluar, terpencil, atau kawasan pedesaan. Untuk itu infrastruktur pendidikan nasional seperti telekomunikasi, jaringan internet, dan lain sebagainya penting segera dibangun. “Dari pantauan kami, di Magetan ini masih ada daerah yang belum terjangkau infrastruktur internet, utamanya di daerah pegunungan dan di beberapa desa terpencil. Mohon yang seperti ini untuk lebih diperhatikan agar proses KBM melalui internet bisa lancar,” papar Gus Imam.

Gus Imam juga menyampaikan, bahwa sehubugan dengan dimunculkannya isu radikalisme kepada umat Islam, maka GUIB meminta kepada semua pihak utamanya bpara pejabat publik untuk tidak melakukan stigmatisasi dengan mengangkat isu radikalisme yang ditujukan kepada umat Islam dan gerakannya karena hal itu kontraproduktif bagi kehidupan nasional. “Mohon jangan membuat kekeruhan baru, Mengedepankan dialog dan pendekatan persuasif saya kira itu adalah sikap yang bijak. Jadi jangan mudah-mudah menuduh dan melekatkan gerakan Islam dengan radikalisme,” ujarnya.

Terakhir, GUIB juga mendorong pemerintah untuk lebih maksimal menanggulangi Covid 19 dengan memberikan alokasi anggaran yang cukup terutama bidang kesehatan dan pendidikan, UMKM, agar perekonomian bangsa segera bangkit. Jadi, bantuan atau subsidi permodalan Coviid 19 jangan diberikan untuk BUMN maupun korporasi. Itu kami rasa kurang tepat,” pungkas Gus Imam. (red)

News Feed