oleh

Kisah Adek “Mahessa Dayu” Salah Satu Anak Penerima BLT Yang Selalu Di Bully Tetangganya

Rumah sederhana yang di tempati Mahesa Dayu

Beritatrends, Magetan – Sebuah cerita yang terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa timur. Di suatu desa yang telah menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), Salah satu awak Media Beritatrends Wilayah Kabupaten Magetan Suliani menyaksikan langsung pembagian BLT di desa tesebut pada  11 Juni pukul 13.10 WIB

Ini adalah kisah nyata yang terjadi Kabupaten Magetan, dan semoga cerita ini menjadikan sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi Perangkat Desa yang berani mempertanggung jawabkan apa yang dia lakukan sudah benar-benar tepat sasaran saat melakukan pendataan bantuan tersebut, begini jalan ceritanya :

“Mbak dari desa mana ?”

Saya sedikit terperanjat mendengar sapaan itu, tersenyum malu karena terpergok mengamati. Perempuan yang menyapa itu duduk sendirian di sela mobil terparkir, padahal ratusan orang lainnya berkumpul di gedung serbaguna sampai terasnya.

Siang itu, saya menghadiri acara “Pembagian bantuan” di desa tetangga (beberapa desa dikumpulkan menjadi satu). Bantuan uang tunai (BLT) sebesar Rp.600.000,- gelombang ke dua. Alhamdulillah, pamong desa setempat menunjuk anak saya menjadi salah satu dari ratusan orang yang menerima bantuan. Saya yakin, termasuk mbaknya ini. Tapi ada sedikit kejanggalan dengannya, sisa-sisa air matanya masih menganak sungai di pipi, matanya merah dengan mimik muka takut-takut.

Saya menyebutkan alamat asal desa saya yang ternyata sama dengan beliau. Kenapa saya tidak mengenalnya? Yap! Karena saya warga pendatang, walaupun sudah 10 tahun menjadi warga desa itu, tapi saya jarang sekali di rumah, dua tahun terakhir sehari-harinya wira-wiri ke kota tetangga untuk antar jemput sekolah anak saya.

Masih ingat anak saya? Pangeran kecil dengan ke specialan nya. Mungkin karena itulah, anak saya dipilih untuk menjadi salah satu penerima bantuan. Terimakasih banyak pada pihak-pihak terkait, terimakasih yang tiada tara karena memerhatikan anak-anak seperti anak saya.

“Aku di poyoki tonggo-tonggo mbak, (Saya di bully tetangga, mbak)” katanya, dengan logat daerah yang kental. “memangnya kenapa?”

“Karena dapat bantuan dua kali.” Air mata mbaknya mulai mengalir lagi. Saya mencoba menenangkan, mengusap pundaknya. “Katanya tidak adil, sudah dapat kok dapat lagi. Semua memojokkan saya. Terus saya masuk kantor sini,” ia menunjuk ruangan di belakang kami duduk yang tertulis Ruang sekretariat “Mereka bilang, Gari neng kowe mbak kok jupuk opo ora. (Tinggal di kamu mau di ambil apa ga.)”

“Trus, kamu gimana?”

“Saya takut mbak. Saya takut di cerca tetangga-tetangga.” Ia sibuk mengusap wajah, membersihkan air mata yang terus mengalir di pipi. “Anak saya tidak bisa bicara, kata mereka anak saya bisu tuli, aneh, gila. Ini bukan kali pertama saya di olok-olok, hampir setiap hari dan setiap dapat bantuan. Sakit hati saya mbak. Tidak dapat bantuan tidak apa-apa yang penting anak saya jangan di olok-olok.”

“Yang dapat bantuan anaknya?” Mbaknya mengangguk, suara sesenggrukan dari tangisnya membuat saya ikut menitikkan air mata.

Mahesa Dayu

“Mana anaknya mbak?”

“Pulang sama bapaknya, rewel mau tidur.”

“Ya udah sekarang gini aja mbak. Yang memberitahu putranya mbak e dapat bantuan siapa?”

“Mbah wo, (Kamituwo/perangkat desa)”

Saya berpikir sejenak, mencari penguat untuk argumen saya yang masih ada dalam isi kepala. Saya hanya orang biasa, ibu rumah tangga, oke saya bisa bantah dan membujuk mbaknya untuk tetap mengambil bantuan itu, tapi saya butuh penguat argumen saya. Kalau menghubungi kamituwo desa jelas saya tidak punya nomor ponselnya.

Lalu saya putuskan untuk menghubungi salah satu teman yang menjabat sebagai perangkat desa, saya ceritakan semua dari awal, beliau ini kenal baik dengan keluarga mbaknya.

“Ikuti prosedur saja, semua desa yang bertanggung jawab.”
Oke. Sesuai dengan jawaban yang saya pikirkan.
Sengaja saya keraskan suara ponsel agar mbak nya mendengar.

“Mbak, kita gak minta bantuan ini, kita dikasih, pihak desa yang menyeleksi. Siapa-siapa yang wajib mendapatkan bantuan mereka lebih tahu, sudah jangan dengarkan orang lain, kalau mereka tidak terima persilahkan saja protes ke desa, desa tanggung jawab.”

Syukur mbaknya paham.

Dari obrolan itu, berlanjut ke obrolan tentang putra beliau, rasa penasaran saya pada putranya terjawab sedikit demi sedikit.

Orang tua Mahesa Dayu dan Dayu saat menerima kedatangan awak Beritatrends

Esoknya, saya sengaja main ke rumah si mbak, berniat ingin bertemu langsung dengan adek Dayu, begitu panggilannya.

Dua tiga tetes air mata mengalir dari pelupuk mata, Dalam hati saya bertanya-tanya, orang-orang macam apa yang tega membully si mbak e. Saya bukan orang kaya, tapi melihat kondisi keluarga sederhana ini, saya rasa perangkat desa sudah melakukan tindakan yang tepat. Apalagi bantuan itu untuk anak special seperti adek Dayu.

Anak berusia lima tahun itu, lari kesana – kemari begitu saya datang, suara jeritannya mengingatkan saya pada putra saya ketika berumur sepantaran. Sama persis.

Dayu tidak bisu, tidak tuli, tidak gila. Dayu hanya terlambat bicara, Dayu hanya hanya anak istimewa. Apakah salah menjadi anak special?

Tidak! Adek Dayu tidak minta dilahirkan seperti itu. Tuhan menentukan hidupnya. Dan jika ada yang menghina keadaannya, berarti orang itu menghina Pencipta Nya.

Adek Dayu begitu riang bermain sendiri, berimajinasi dengan dunianya. Adek Dayu anak yang menggemaskan, pintar dan special. Bahkan tidak ada salahnya bila pangeran kecil ini mendapat bantuan lebih lagi, terutama pada pendidikannya.

Kedua orang tuanya tidak banyak tahu tentang kasus seperti yang di alami sang putra, jadi ketika tetangga-tengganya mencemooh, yang ada beliau langsung minder, berkecil hati dan merasa rendah diri.

“Kita tidak meminta anak kita seperti ini mbak, Tuhan yang kasih. Kenapa? Karena Tuhan tahu kita mampu memberikan yang terbaik untuk anak kita. Karena kita istimewa.”

Mereka menangis, saya tidak berniat membuat mereka menangis. Saya hanya mengutaran apa yang pernah saya rasakan, Saya pernah seperti mereka ketika anak saya masih berusia 4 tahunan. Saya merasa kerdil dan tidak berguna. Tapi Tuhan tidak mematahkan semangat saya sampai saat ini usia anak saya sudah sepuluh tahun. Begitu banyak keajaiban yang telah saya alami selama saya terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak special saya. Di situ saya banyak belajar dan percaya diri.

“Tidak perlu mengurusi omongan orang lain. Jika pertanyaan mbak e tentang mengapa mereka begitu suka membully? Jawabannya Cuma satu. Itu karena hidup mereka terlalu membosankan.”

Sedikit-demi sedikit semangat mbak e dan suaminya muncul. Ada setitik kecerahan yang menghiasi wajah sayu mereka. Ada sedikit senyuman sebagai pemancar harapan.

“Tuhan menitipkan pada kita seseorang yang special. Tuhan pula yang akan bertanggung jawab atas semuanya, selama kita terus berjuang untuk yang terbaik. Berjuang.. berjuang.. dan terus berjuang… langkah demi langkah adalah yang terbaik, menikmati setiap prosesnya hingga dimasa depan tidak akan pernah ada kata penyesalan. Dan hasilnya? Itu urusan Tuhan. Itu bonus untuk perjuangan kita.”

Semoga adek Dayu mendapatkan yang terbaik untuk semua yang di butuhkannya, berjuang bersama kedua orang tuanya yang tidak akan pernah menyerah.

Penulis : Suliani

News Feed