oleh

60 Persen Air Permukaan Di Kabupaten Madiun Tidak Dimanfaatkan

SAMPAIKAN LAPORAN–Ketua Tim Peneliti Lembaga Studi Ekosistem Kehutanan, Dr. Rahmanta Setiadi (tengah, Red) menyampaikan laporan akhir studi optimalisasi pemanfaatan air permukaan di ruang rapat Bappeda Kabupaten Madiun, Selasa (3/12/2019).

 

MADIUN, BERITATRENDS,–Hasil studi tim Bappeda Madiun bersama Lembaga Studi Ekosistem Kehutanan di Kabupaten Madiun menyebutkan 60 persen air permukaan di Kabupaten Madiun hilang tidak dimanfaatkan. Kondisi itu menjadikan air permukaan yang hilang menggenang ke daerah hilir hingga menyebabkan banjir seperti terjadi awal Maret tahun 2019.
“Kita tidak mampu memanage curah hujan yang ada secara maksimal. Air hujan yang jatuh mengalir dan menghilang begitu saja. Padahal air hujan yang turun bisa dimanfaatkan,” kata Ketua Lembaga Studi EKosistem Kehutanan, Dr. Rahmanta Setiadi kepada Beritatrends.com usai memaparkan Laporan Akhir Studi Optimalisasi Pemanfaatan Air Permukaan Kabupaten Madiun di Kantor Bappeda Madiun, Selasa (3/12/2019)

Hasil kajiannya, kata Setiadi, kalau diprosentasekan lahan didaerah hulu merupakan lahan perhutani karena 60 persen wilayah hutan atau hutan lindung. Sementara 30 persen hutan rakyat sisanya sekitar 10 persen atau 15 persen lahan perkebunan di Kandangan.

Menurut Setiadi, secara teori yang paling baik menurut siklus hidrologi itu air hujan yang jatuh tanah kemudian meresap dahulu. Setelah jangka lama waktu satu hingga dua minggu baru muncul ke mata air. Idealnya seperti itu.

LINTAS OPD—Perwakilan lintas organisasi perangkat daerah menghadiri pemaparan laporan akhir studi optimalisasi pemanfaatan air permukaan di ruang rapat Bappeda Kabupaten Madiun, Selasa (3/12/2019)

 

“Tetapi kondisi yang terjadi begitu hujan turun air langsung hilang hingga 60 persen makanya kemudian menggenang di daerah hilir dan terjadi banjir seperti tahun kemarin hingga ke jalan tol. Dan air permukaan tidak bisa termanfaatkan menimbulkan bencana berdasarkan dari hasil kajia kami,” jelas Setiadi.

Bagi Setiadi, kunci siklus air hujan itu berada di daerah hulu. Pasalnya, daerah hulu itu diibaratkan memiliki wilayah seperti spon. Untuk menciptakan spon secara alam harus banyak tanaman, vegetasinya rapat dan tidak terbuka. Dengan demikian begitu air jatuh maka air akan terserap di spon tersebut.

Setiadi megnatakan air hujan yang berada di hilir sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pada saat dibutuhkan petani. Tentunya kondisi itu jangan ditambah air dari atas. Untuk itu diatas harus ada menyerap.
“Sementara di daerah hilir penyerapannya juga berkurang karena perubahan landscap yang tanah persawahan berupa menjadi perumahan. Kemampuan daya serap terhadap air pun makin berkurang. Kondisi itu diperparah dengan situasi tanah di daerah hulu yang kurang penyerapannya karena tidak ada humus,” kata Setiadi.

SIMAK—Peserta Focus Group Discussion (FGD) menyimak laporan akhir studi optimalisasi pemanfaatan air permukaan di ruang rapat Bappeda Kabupaten Madiun, Selasa (3/12/2019).

 

Ia menambahkan secara teori kalau tanah itu terbuka maka energi kinetik air hujan itu seperti pukulan besar. Semakin besar hujannya maka menjadikan pori-pori tanah mampat sehingga tidak bisa menyerap air.

Lain halnya bila ada pepohonan, maka bila hujan terjadi maka air yang jatuh bisa ditampung tajuh kemudian turunya lewat batang kemudian meresap lewat akar. Akar membantu mencarikan jalan air. “Logikanya semakin banyak vegetasi maka semakin banyak air yang tersimpan di daerah atas,” kata Setiadi.

Sementara itu Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappeda Kabupaten Madiun, Dedy Suryadi mengatakan studi penelitian optimalisasi pemanfaatan air permukaan dengan menggandeng Lembaga Studi Ekosistem Kehutanan (LSEK) dilakukan untuk mengetahui potensi air permukaan yang ada di wilayah Kabupaten Madiun. Tak hanya itu, dari studi juga dapat diketahui sebaran potensi air permukaan yang berada di Kabupaten Madiun.

Ia menyatakan laporan akhir studi optimalisasi pemanfaatan air permukaan di Kabupaten Madiun menemukan fakta bahwa air permukaan tanah yang dimanfaatkan sektor pertanian hanya 40 persen dari potensi yang ada. Dengan demikian masih ada 60 persen potensi air permukaan yang belum dioptimalkan pemanfaatannya untuk sektor yang lain. (MAL)

News Feed