oleh

Selamat Jalan Kang mas Totok, Mantan Kajari Blitar

Almarhum A Miftahul Arifin (Kang Totok) mantan Kajari Blitar

Beritatrends, Sampang – Kepergian seorang sahabat untuk selama-lamanya (alm. A. Miftahol Arifin dengan panggilan akrabnya kang Totok, mantan Kejari Blitar) apalagi terikat dalam satu korps pengabdian membuat rasa kehilangan teramat sangat dalam bagi seorang Didik Farkhan, mantan Aspidsus Kejati Jatim yang belum lama mendapatkan promosi jabatan baru sebagai Koordinator pada Kejaksaan Agung RI di Jakarta.

Namun itu semua kita tentunya menyadari sudah menjadi kehendakNYA. Inilah momentnya,┬áSubuh, 15 Agustus 2019. Saya terbangun, ketika mendengar suara Istri saya setengah teriak, “Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun. Pak Totok Arifin meninggal Yah”.

Seketika saya bangkit dari tidur. Lalu ikut ucapkan, “Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun”. Saya lihat istri saya mendapat kabar dari WA group.

Saya langsung termenung. Terdiam. Terbayang langsung wajah mas Miftahul Arifin saat terakhir bertemu. Sekitar bulan Mei 2019 di Kejati Jatim.

Didik Farkhan, Mantan Aspidsus Kejati Jatim sebagai sahabat satu korps dengan (alm) Kang Totok (Kajari Blitar)

Kang Totok, biasa Saya panggil, saat itu berseragam lengkap datang menghadap Pak Kajati. “Saya ingin mundur dari jabatan Kajari Blitar,”ungkapnya.

Saya melihat kang Totok mantap dengan keputusannya untuk mundur. Dari tatapan wajahnya saya lihat tidak ada keraguan sedikitpun. Sepertinya keputusan itu sudah dimusyawarahkan dengan keluarga. Kebetulan istrinya, Mbak Dina, jaksa juga.

“Saya sakit pak Kajati. Saya ingin konsentrasi berobat,”katanya memohon.

Setelah itu saya sempat guyon dengan Kang Totok. Mengenang masa lalu. Ketika sama-sama dinas di Kejari Kabupaten Malang di Kepanjen tahun 2003. Dia Kasi Pidum, saya Kasi Pidsus.

Saya dan kang Totok sama-sama indekost di Kepanjen. Masih sepi saat itu. Maklum Kantor Kejari Kabupaten Malang baru dibentuk. Pecahan dari Kejari Kota Malang. Kantornya pun masih “mencil” sendirian di tengah sawah.

Kajari Kabupaten Malang saat itu Bapak M Yusni. Sekarang Jaksa Agung Muda Pengawasan. Karena kantor masih baru, Kajari dan para Kasi sama-sama “babat alas”. Seperti buka hutan.

Belum ada perkara masuk. Jadi tiap hari masih benah-benah kantor. Segala register perkara belum ada. Intinya kita bareng-bareng melengkapi fasilitas kantor. Jadi sering lembur di kantor.

Suatu hari kita lembur dan asyik ngobrol ternyata jam sudah menunjukkan angka 12 malam. Kasi-kasi lain pulang. Tinggal saya dengan Kang Totok menemani Pak Kajari. “Ternyata sudah malam, Kita tidur kantor saja,”ajak Pak Kajari.

Pak Kajari tidur di kursi tamu yang tiga dudukan. Kang Totok mlungker di kursi yang dua dudukan. Tinggal saya tidak ada pilihan hanya kursi yang satu dudukan. “Kasi paling muda cocoklah dapat kursi paling kecil,” guyon Kang Totok disambut gerr saya dan Pak Kajari.

Masih terbayang juga, setiap jumat sore, wayahe pulang kampung. Saya kalau tidak bawa mobil selalu “nunut” Kang Totok. Nunut sampai Surabaya. Walau rumahnya Sidoarjo, Kang Totok rela antar saya sampai terminal Bungurasih. Jauh. Baru saya ke Bojonegoro naik bus.

Ada kisah satu lagi yang tidak pernah saya lupa. Dulu di kantor ada satu honorer yang culun baru lulus SMA. Slamet namanya. Anak Gresik. Dia selalu tidur kantor.

Kalau malam, saya lembur, kebetulan lagi menyidik sendiri kasus korupsi dana KUT (Kredit Usaha Tani), Slamet menemani. Saya ingin Slamet bisa nyetir mobil. Saya suruh Slamet latihan nyetir pakai mobil tahanan.

Jadi setiap malam, Slamet “putar-putar” kantor. Pakai mobil tahanan. Sampai dua minggu dia bisa lancar nyetir.

Suatu pagi saya di ruangan Kang Totok. Ada sopir tahanan pidum masuk minta uang bensin. “Lho kemarin baru diisi kok sudah habis,” kata Kang Totok kepada sopir tahanan.

Sambil memberi uang bensin, ia cerita tentang keanehan di kantor baru ini. Banyak cerita aneh. Mulai cerita banyak hantu hingga cerita aneh, tentang mobil tahanan.

Kata sopir tahanan mobilnya sering pindah tempat. Padahal dikunci. “Dan yang aneh bensinnya sering habis sendiri,”kata Kang Totok. Saya diam. Hanya bisa nyengir. Padahal setiap malam mobil itu dipakai belajar nyetir Slamet.

Maafkan saya Kang Totok. Hari ini dirimu telah dipanggil dulu oleh Allah SWT. Saat mengantar jenazah di rumah Pondok Mutiara Sidoarjo, saya mewakili Pak Kajati bersaksi bila sampeyan adalah orang baik. Insya Allah husnul khotimah.

Saya mendengar langsung dari Ibu kandung sampeyan bila sebelum sudah berpesan bila umur saya diambil, ingin di makamkan di tanah kelahiran. Sampang Madura.

Dan saya mendengar dari keluarga sampeyan sebelum meninggal ada keinginan sampeyan bertemu Nabi Muhammad. Saya yakin keinginan sampai terpenuhi. Akan ketemu junjungan kita Nabi Muhammad di Surga.

Sekali lagi selamat jalan Kang mas Totok. (Sahabatmu Didik Farkhan)

News Feed