oleh

Produk Kearifan Lokal Yang “Tidak Arif”

Sandainya para tamu dan pemain mengenakan Produk Lokal Magetan Seperti Batik Pring Sedapur sama juga sudah kampanye bahwa Magetan ada Batiknya, (Acara Halal Bi Halal Warga Perantau Magetan di Jakarta)

Beritatrends, Magetan – Sebut saja Cah Angon mengatakan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat di setiap Desa atau Kabupaten dapat menjadi penangkal radikalisme.

“Oleh sebab itu membangun ketahanan dari Desa sangat diperlukan, apalagi saat ini kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat beragam informasi dari yang baik hingga yang buruk sangat mudah untuk diakses,” kata Cah Angon saat ditemui di kediamannya, Sabtu (13/7/2019).

Hal itu juga membuat interaksi sesama warga di desa melemah sehingga perpecahan di desa gampang terjadi, apalagi ditambah dengan rendahnya kepedulian terhadap sesamanya.

“Saat ini yang kita butuhkan adalah menghidupkan kembali ruang-ruang untuk berkumpul tersebut, agar mereka saling mengenal dan tidak ada kecurigaan satu sama lain,” ujar Cah Angon.

kalau para artis menggunakan Batik khas Magetan bisa sekaligus mempromosikan

Satu Contoh Produk Lokal atau Kearifan Lokal di suatu Kota Kabupaten katakan Kabupaten Magetan yang konon menjadi Icon sebuah Desa/Kabupaten namun eksistensinya hanya dipandang sebelah mata oleh Pemerintah Daerahnya.

“Seharusnya memang di hidupkan, namun kenyataannya yang terjadi tidak ditumbuh kembangkan hanya karena ego dan sentimen,”ucap Cah Angon.

Contohnya Batik Pring Sedapur Sidomukti pernah menjadi dan mendapat perhatian khusus oleh Presiden SBY ketika itu, bahkan sempat hadir dan membatik di rumah Batik Sidomukti sebanyak tiga kali bersama Ibu Ani SBY almarhum.

“Namun setelah pergantian kekuasaan,  berubah pula perhatiannya, sekali lagi ” di beri hidup, tapi tidak diberi hak tumbuh ” yang akhirnya jadilah Hidup Segan Mati Tak Mau,”terangnya.

Para pemain ketoprak pada acara halal bi halal di TMMI 

Lanjutnya, seiring informasi dari lapangan, bahwa pemakai Batik Pring Sedapur identik dengan ASN / Pegawai Negeri, sehingga Masyarakat Umum tidak memiliki kebanggaan ketika mengenakan Batik Pring Sedapur, bahkan para pejabatnya pun tidak mengajarkan untuk sence of belonging / rasa memiliki. Rumongso Handarbeni terhadap Batik Pring Sedapur itu sendiri.

“Kalau saya perhatikan seperti yang di lakukan Bupati Ngawi, mengajak masyarakat untuk tetap meningkatkan dan melestarikan produk kearifan lokal. contoh ‘Festival Batik Ngawi’ dan belum lama juga Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Madiun juga melakukan hal yang sama untuk mengangkat Produk kearifan lokal,”ucapnya.

Anehnya pada Even Tahunan yang selalu diadakan di Taman Mini Indonesia Indah tepatnya dianjungan Jawa Timur belum lama ini terkesan tidak Magetan banget, karena para tamu yang datang tak satupun yang mengenakan batik khas Magetan yakni Batik Pring Sedapur Sidomukti.

“Naaah dengan kejadian tersebut,  semoga ada keajaiban dengan bertahannya Ke-arifan Lokal Batik Pring Sedapur Sidomukti pada suatu saat nanti, sehingga bisa tumbuh dan berkembang,”pungkas Cah Angon. (Red/Cah Angon)

Komentar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed