oleh

Tutup Diklat PIM IV, Wabup Madiun Minta Calon Pemimpin Harus Beretika

Wakil Bupati Madiun, Hari Wuryanto memberikan piagam penghergaan kepada peserta diklat PIM IV yang mendapatkan predikat kelulusan sangat memuaskan, Rabu ( 29/5/2019)

MADIUN, BERITATRENDS — Wakil Bupati Madiun, Hari Wuryanto meminta aparatur sipil negara yang dikaderkan sebagai calon pemimpin harus memiliki etika. Pasalnya akhir-akhir ini banyak pemimpin yang kehilangan etikanya.

“Akhir-akhir ini banyak pemimpin yang kehilangan etikanya. Saya berharap calon-calon pemimpin ini memiliki etika saat memimpin. Untuk itu kalau mereka sebagai pemimpin maka mereka harus bisa memberikan contoh sebagai teladan,” kata Wakil Bupati Madiun, Hari Wuryanto saat menutup Diklat PIM IV Angkatan IV Kabupaten Madiun, Rabu (29/5/2019).

Diklat yang diikuti 40 ASN itu digelar Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Madiun bekerjasama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Tak hanya itu, hadir Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Dasar dan Managerial BPSDM Provinsi Jawa Timur, Muhammad Suluh.

Seluruh peserta diklat sebanyak 40 orang dinyatakan lulus. Enam dari empat puluh peserta diklat mendapatkan predikat kelulusan sangat memuaskan. Sisanya, berpredikat kelulusan memuaskan.

Wakil Bupati Madiun, Hari Wuryanto berfoto bersama dengan para peserta diklat PIM IV angkatan keempat, Rabu (29/5/2019).

Wabup Hari Wuryanto yang biasa Hari Wur mencontohkan lantaran orang itu memiliki intelegensi tinggi tetapi ketika bertemu dengan orang tua tidak memiliki etika atau unggah-ungguhnya tidak ada. Padahal bila terjun di masyarakat, seorang pemimpin harus miliki etika agar bisa benar dan pener.

“Di era digital ini, sering perilaku pemimpin yang belum tunjukan menjadi seorang pemimpin. Padahal pendiri bangsa seperti Ki Hadjar Dewantoro sudah mengajarkan Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa,” kata Hari Wur.

Tak hanya itu, saat bersama staf bisa berkolaborasi dengan yang dipimpin. Sementara saat berada dibelakang harus bisa mendorong agar staf bisa semangat melaksanakan tugasnya.

Terhadap proyek perubahan (proper) yang dibuat masing-masing peserta diklat, Hari Wur meminta seluruh peserta diklat segera mengeksekusinya saat kembali ke masing-masing organisasi perangkat daerah. Bila tidak segera dieksekusi maka akan dipakai orang lain.

“Pada era digital 4.0 sangat luas sekali dan ruang tidak terbatas. Kalau tidak segera dieksekusi maka akan segera diambil orang. Seperti ada proper silat ATK, saat ini sudah dipikirkan namun yang lain sudah memiliki pemikiran. Kalau dia diam saja maka hanya angan’angan saja,” jelas Hari Wur.

Hari Wur menambahkan jadi pemimpinan harus memiliki hasta brata. Delapan watak yang harus dimiliki pemimpin yakni bumi karena harus menerima dan mengayomi semua. Kedua, air dimana pemimpin tidak bisa sendiri. Ketiga, angin sebagai sumber kehidupan. Keempat, bulan, harus jadi penerang digelapan. Kelima, matahari, sebagai energi postifi anak buah yang dipimpin.

Keenam, samudra, pemimpin harus sabar dan jangan mudah emosi dan berbesar hati. Ketujuh, gunung, pemimpin harus memiliki keteguhan yang luar biasa dan jangan klamer-klemer. Kedelapan, api, pemimpin harus cekat, tepat dan tangkap.

Butuh Gagasan Besar.
Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Dasar dan Managerial BPSDM Provinsi Jawa Timur, Muhammad Suluh di era 4.0 semua orang harus bisa menangkap peluang. Untuk menangkap peluang itu butuh ide dan gagasan besar.

“Kalau ikuti perkembangan harus bisa menangkap peluang. Dan yang bisa tangkap peluang generasi milineal. Kalau bisnis dahulu butuh modal besar. Sekarang hanya butuh ide dan gagasan,” jelas Suluh.
Suluh mencontohkan banyak bisnis beromset ratusan miliar tumbang oleh generasi milineal karena kalah inovasi dan gagasan.

Kondisi itu harus menjadi pelajaran bagi ASN agar terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Suluh berharap, peserta diklat saat kembali ke OPD harus menjadi agen perubahan di opd sehingga pelayanan publik makin ditingkatkan. Namun ide dan gagasan itu harus sesuai aturan, miliki daya tanggap, cerdas dan tepat. “Sistem pelayanan publik saat ini banyak tak lagi libatkan fisik. Semuanya digital,” ungkap Suluh. (MAL)

Loading...

News Feed