oleh

Manfaatkan Jamur Tempe, Tiga Siswa SMKN Di Madiun Ciptakan Pengelola Limbah Mini

Tiga siswa kelas XI, SMKN I Mejayan, Kabupaten Madiun, Bima Aji, Adinda Mustika dan Desy Wulan Indah Permata didampingi gurunya, Septa Krisdiyanto berhasil menciptakan alat instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) mini. IPAL mini besutan sudah teruji dan berhasil menyabet juara kedua Lomba Kreativitas Teknologi Tepat Guna yang digelar Dinas Kepemudaan dan Olahraga Propinsi Jawa Timur

Beritatrends.com,¬†Madiun –¬†Tiga siswa SMKN I Mejayan, Kabupaten Madiun menciptakan sebuah inovasi pengelolaan limbah mini berbasis ramah lingkungan.

Bermodal jamur tempe dan tawas, tiga siswa kelas XI, SMKN I Mejayan, Bima Aji, Adinda Mustika dan Desy Wulan Indah Permata berhasil menciptakan alat instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) mini. IPAL mini besutan Bima, Adinda dan Desy pun sudah teruji dan berhasil menyabet juara kedua Lomba Kreativitas Teknologi Tepat Guna yang digelar Dinas Kepemudaan dan Olahraga Propinsi Jawa Timur.

Kepala Sekolah SMKN I Mejayan, Suharto kepada wartawan Sabtu (25/5/2019) mengatakan tiga anak didiknya itu menciptakan IPAL mini setelah melihat banyaknya limbah rumah tangga bau dan tidak nyaman lingkungan. “Anak-anak banyak merasakan limbah rumah tangga bau dan tidak nyaman lingkungan,” kata Suharto.

Menurut Suharto, untuk menciptakan IPAL mini, tiga siswa itu didampingi seorang guru pendamping yang sudah memiliki segudang prestasi yakni Septa Krisdiyanto. Didampingi, Septa, tiga siswa SMKN I Mejayan itu menciptakan IPAL mini berbiaya murah.

Septa Krisdiyanto ( 37), guru sains SMKN I Mejayan, menyatakan pembuatan IPAL mini biayanya tidak sampai Rp 200.000. “Biayanya murah sekali. Tidak sampai Rp 200.000,” kata Septa.

Menurut Septa, pembuatan IPAL mini itu berawal dari banyaknya industry skala kecil maupun rumah tangga yang membuang limbah seenaknya. Untuk itu, tiga siswanya merancang IPAL mini yang mudah dan ramah lingkungan. “Seperti diketahui, limbah rumah tangga dan industri rumah tangga membuang limbah semaunya sendiri,” kata Septa.

Septa mengatakan IPAL mini buatan tiga siswanya menerapkan empat prinsip dengan mengelola limbah jelek keluar menjadi bersih dan bermanfaat. Pertama siswanya membuat sebuah bak wadah yang berfungsi pengendapan atau sedemintasi. Secara fisika, ketika ada kotoran limbah air itu maka lama kelamaan partikel akan larut kebawah.

“Kalau mengandalkan cara itu butuh waktu lama. Maka bisa distimulus dengan cara kedua, yakni dipasang tawas pengikat partikel,” kata Septa.
Selanjutnya memanfaatkan jamur tempe karena makanan jamur tempe itu berupa senyawa lemak, mentega dan minyak. Maka limbah yang berminyak hingga lemak dapat dimakani jamur tempe.

Ketiganya dilakukan dalam proses sedimentasi. Setelah itu air bak pertama dialirkan ke bak berikutnya bernama filtrasi disaring dahulu karena ada dimungkinan adanya partikel besar yang masih lolos sedimentasi difiltrasi alami berupa pasir, kerikil, hingga arang.
Setelah filtrasi, dilakukan airasi yakni pencampuran oksigen luar kedalam air agar tidak berbau dan kondisi oksigen terlarut didalamnya tinggi. Tetapi biasanya proses airasi memakai alat bantu yang mahal.
“Tetapi disini diakali dengan pengeluaran air yang dilubangi kecil seperti semprotan. Begitu air turun semprot kebawah maka otomatis terjadi pemecahan air. Untuk itu dibuatkan miniatur jendela untuk sirkulasi udara bertahan disitu sehingga itulah mengkonkritkan proses airasi dalam pengolahan limbah,” kata Septa.

Air yang keluar dari IPAL mini, dimanfaatkan langsung untuk tanaman organik dan ikan. Dengan demikian, kalau kondisi rumah sempit maka dengan alat itu bisa berhidroponik dan pelihara ikan.

Septa menambahkan saat memberikan penilaian karya tiga siswanya, juri menilai IPAL mini sangat tepat teknologinya dan kemanfaatanya bisa terasa baik orang tidak punya maupun orang kaya.
Septa menyatakan teknologi IPAL mini bisa dikembangkan untuk IPAL industri besar. Hanya saja, perlu dimodifikasi dengan faktor lain. (Alawi)

Loading...

News Feed