oleh

LIK Buang Limbah B3 ke TPA Milangasri Tanpa Ijin DLH Magetan

Kepala Bidang dari DLH saat menjawab keterangan pihak kepala UPTD Perindustrian Jawa Timur tentang permasalahan Limbah LIK yang berada di Magetan, Selasa (24/7/2018)

Beritatrends.com,Magetan – Kasus bau libah Lingkungan Industri Kecil (LIK) Magetan terjadi sudah puluhan tahun, namun pemerintah setempat dan pemerintah provinsi Jawa Timur hingga kini tak ada untuk mencarikan solusinya, hal ini terkesan seperti ada main antara pengusaha LIK, pemerintah kabupaten Magetan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan biaya ringan limbah lansung di buang ke Kali Gandong padahal, iuran pengusaha sesuai data yang di himpun media ini selama setahun paling sedikit mencapai 70 juta, kemana lari dana tersebut ?

Melalui UPTD Perindustrian Pemerintah Provinsi Jawa Timur berencana membangun tempat pembungan akhir limbah untuk mengakomodasi produk akhir industri di Kabupaten Magetan tersebut. Saat ini, seluruh industri Lingkungan Industri Kecil (LIK) dan PT. Wira Carmayasa milik Provinsi Jawa pengolah kulit membuang limbah B3 ke Kali Gandong Magetan.

Ketiadaan tempat pembuangan limbah akhir B3 yang akhirnya para pengusaha membuang ke Kali Gandong hasil proses Ipal dan Sebagian sampah B3 dibuang Ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah milik Pemkab. Magetan yang berada di Desa Milangasri.

Dengan Kejadian ini menjadi perhatian Ngo. Walidasa cabang Magetan dan beberapa LSM karena pembuangan sampah tersebut bisa mengakibatkan bahaya buat alam lingkungan, masyarakat dan ekosistem yang ada di Kabupaten Magetan, khususnya Kali Gandong yang melintang di tengah kota Magetan.

Menurut Mulyadi Jenggot, setelah Rudi Setiawan melakukan aksi menutup hidung Patung Pahlawan Gubernur Suryo, memang bau tak sedap berkurang selama kurang lebih tiga bulan ini, namun ternyata pembuangan limbah dialihkan ke TPA Milangasri.

“Kalau ini kami tidak dapat laporan dari masyarakat kami tidak tahu kalau UPTD Perindustrian Jawa Timur selaku pengelola limbah pabrik kulit yang berada di Magetan melakukan hal yang sangat keji dan bisa membahayakan lingkungan dalam jangka beberapa waktu kedepan,”ucap Jenggot panggilan akrab Mulyadi kepada Pojok Kiri, Selasa (24/7/2018).

Yang akhirnya Jenggot turun kelapangan di TPA ternyata benar, ada salah satu truk yang mengangkut limbah B3 dan memang dengan sengaja untuk di buang ke TPA, ini semua saya rekam sebagai bukti bahwa kerja Dinas Lingkungan Hidup Magetan dan UPTD Perindudtrian Jawa Timur ada main untuk menyesiasati sebuah kejahatan Lingkungan Hidup di Magetan.

Akhirnya terjadi pertemuan antara Dinas LIngkungan Hidup Magetan yang di wakili Marwidi, UPTD Perindustrian Jawa Timur yang diwakili kepala UPTD serta beberapa pegawai yang menagani Limbah LIK serta LSM Laskar Merah Putih (LMP) Markas Cabang Magetan, Ngo. Walidasa dan LPKSM di ruang pertemuan UPTD Perindustrian.

Ketua LMP membuka pembicaraan terkait Limbah LIK yang dibuang ke Kali Gandong serta TPA yang berada di Milangasri, yang selama ini terkesan tidak ada pembenahan bahkan terkesan merusak lingkungan hidup di Magetan mohon dilakukan pembenahan yang kedepan tidak akan terjadi kerugian buat masyarakat.

Langsung di jawab oleh Kepala UPTD Perindustrian Wahyu mengatakan, selama ini justru kamilah yang terkesan sebagai Pembina IKM yang berada di Kabupaten Magetan sedangkan pemerintah kabupaten Magetan tekesan diam tak ada gereket untuk pembenahan.

“Memang pembuangan kita lakukan ke TPA ini sudah ada perjanjian oleh DLH Magetan untuk mengantisipasi penumpukan hasil limbah yang telah penuh karena kapasitas Ipal yang berada di LIK polumenya terbatas, ini kita akan melakukan pembuatan Ipal lagi biar tidak terjadi penumpukan, memang hasil Ipal tetap harus dibuang yang menjadi persoalannya tempat yang tidak ada makanya sebagian kita buang ke Kali Gandong dan sebagian ke TPA karena sudah ada perjanjian,”ucap Wahyu.

Akhirnya di sanggah oleh ketua LPKSM Norman mengatakan, kami tinggal tidak jauh dari LIK yang berjarak kurang lebih hanya 500 Meter, namun kenyataannya selama kurang lebih empat kali dalam seminggu kami ke dampak baunya.

Selanjutnya di jawab oleh Wahyudi, memang kita akui kalau bau itu yak arena bahan yang kita oleh dasarnya bau namun untuk menjadi bahaya itu tidak karena sudah melalui beberapa proses, ini buktinya hasil dari leb kami limbah yang kami buang terbukti sudah netral dan tak apa-apa.

Lanjut Norman oke itu leb yang melakukan bapak kita juga tidak tahun pengambilan sempelnya nanti kita lakukan bersama-sama untuk pengambialan semple namun leb kita lakukan di Polda Jatim yang benar yang mana? Apa bila leb yang bapak lakukan benar kita akan lakukan membantu publikasi bahwa Limbah LIK Magetan Aman tapi sebaliknya apa bila Leb bapak tidak benar apa sangsinya.

Selanjutnya Marwidi wakil dari DLH Magetan mengatakan, selama saya menjabat tidak ada ijin dari Pihak UPTD untuk melakukan pembuangan ke TPA, dan memang limbah dari LIK sekitar tahun delapan puluhan saya termasuk yang memanfaatkan hasilnya bagus, tapi tidak tahu kalau sekarang apa bagus atau tidak saya tidak menggunakannya.

Keterangan Marwidi langsung di jawab oleh Wahyu, kita sudah lakukan ijin saat itu Kepala Dinas nya Bambang Setiawan dan kepala Bidangnya Herusetyono.

Itu dulu pak, sejak saya menggantikan pak Heru tak ada yang melakukan ijin untuk pembuangan ke TPA ini saya sudah kecolongan di lokasi saya ternyata ada yang membuang Limbah B3.

Akhirnya Mulayadi Jenggot angkat bicara sebelum berpamitan, hal ini sebenarnya tergantung dari pihak pengusaha, pemerintah Magetan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mau duduk bersama apa tidak untuk menyikapi masalah limbah ini agar tidak terjadi saling tuduh.

“Saya dapat bocoran pengusaha setiap tahunnya di potong hingga 70 juta namun permasalahannya tidak kunjung tuntas, ini saya ambil kesimpulan bahwa pengusaha, pemerintah Magetan dan Jawa Timur memikirkan keuntungan belaka tidak memikirkan nasib anak bangsa yang akan datang,” pungkas Jenggot. (Lak)

 

News Feed