oleh

GEMPPAR Duga Ada Permainan Politik

 

Rusli Rd.Panji,SH Pengamat Polik menduga Pilkada serentak kali ini sarat dengan kepentingan politik tertentu dan Ibnu Khaldun ketua DPC Partai Republik Kabupaten Tangerang sangat menyayangkan dengan adanya calon tunggal di Pilkada

Beritatrends.com.Tangerang – Suhu politik pilkada serentak 2018 di Tanah Banten semakin memanas. Setelah Ketua KPU Kota Tangerang, menyatakan pilihan alternatif kotak kosong sebagai peserta pemilu adalah sah untuk disosialisasikan, maka banyak aktivis relawan kotak kosong yang berkampamye secara terang-terangan.

Berbeda halnya dengan KPU Kabupaten Tangerang, melalaui salah seorang komisioner KPU, Ahmad Jamaludin, secara gamblang mengatakan siapa saja yang mengkampanyekan kotak kosong bisa terkena jeratan hukum, tanpa menyebutkan dasar hukumnya.

Pengamat Politik, Rusli Rd. Panji, menduga, pilkada serentak kali ini sarat dengan kepentingan politik tertentu. Yang jelas tidak terlihat demi kepentingan masyarakat banyak, yaitu memilih pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang berpihak bagi kepentingan rakyat.

Rusli mengatakan, dari awal pendaftaran calon tunggal bupati dan wakil bupati saja sudah salah. Bagaimana ada pemilihan kalau calonnya tunggal. Kan aneh? Harusnya KPU juga menolak usulan partai politik yang hanya mengusung satu nama. Hal ini selain tidak mencerminkan azas demokrasi, juga membuktikan matinya ideologi mesin politik untuk mencetak kader-kader terbaik bangsa. “Saya menduga ini ada jebakan betmen dari partai pengusung untuk kepentingan sampai dengan 2020” kata Ketua LSM Gempar ini.

Menurutnya, calon tunggal sepertinya sengaja di umpan partai pengusung demi pemenangan partai sampai tahun 2020 hal ini terlihat karena bukan saja di kabupaten Tangerang, di kota Tangerang dan Kabupaten Lebak juga sama. Kalau incumbent kalah oleh kotak kosong. Maka akan lahir paslon yang akan beradu di tahun 2020 nanti.

Kecurigaan ini dibenarkan oleh ketua DPC Partai Republik, Ibnu Khaldun, yang partainya tidak bisa mengikuti Pemilu 2019 nanti karena tidak lolos verifikasi KPU.

Ibnu mengatakan, sangat menyayangkan dengan adanya calon tunggal di pilkada. “Sepertinya memang tidak ada lawan, tapi mengalahkan kotak kosong, yang merupakan hati nurani atau tingkat kepuasan masyarakat sangatlah beresiko, ibarat satu lawan 2 juta” kata ibnu.

Hasil pengamatannya sampai pelosok desa, elektabilitas paslon Zaki-Ombi juga kurang bagus, bahkan yang tadinya mendukung banyak yang berbalik arah.

Baik Rusli maupun Ibnu menyarankan agar Paslon Zaki -Ombi harus bekerja ekstra meyakinkan kembali masyarakat Kabupaten Tangerang. Jika hanya memantau saja karena tidak ada lawan, sepertinya pasangan ini akan menelan pil pahit di akhir pilkada 2018. (Haryadi)

News Feed