oleh

Gerakan Menanam Seribu Bunga di Desa Mategal Untuk Merubah Mindset Kantong TKI/TKW Menjadikan Desa Penuh Rupiah

 

Para ibu guru memandu para murid-muridnya caranya menanam bungan dengan rasa cinta, Sabtu (31/3/2018)

Beritatrends.com, Magetan – Gerakan menanam seribu bunga di Desa Mategal,  Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan mulai menjadi perhatian para pemburu pencinta bungan serta anak-anak sekolah yang ingin melihat lokasi tersebut yang letaknya di Sendang Widoro Kandang Mategal.

Berlokasi sekitar tujuh kilometer dari pusat Kecamatan Parang, Gerakan Tanam Seribu Bunga ini merupakan hasil pemerkasa seoarang Sekretaris Desa (Sekdes) atau Carik Mategal, Yanuar Ari Wicaksono, yang ingin merubah mainside Desa Mategal yang merupakan Kantong TKW/TKI menjadi Desa yang penuh dengan rupiah.

Berawal dari melihat sejumlah objek wisata di beberapa wilayah seperti Malang, Tawangmangu dan Jogjakarta, tercetuslah ide membuat taman di wilayah sumber yang berada di Desa Mategal, Yanuar dengan didukung seluruh perangkat desa dengan istilah Sedulur Pamong, KNPI dan HKTI akhirnya menyulap sendang Widoro Kandang  yang menggabungkan antara objek wisata yang ada di Malang, Tawangmangu dan  Jogjakarta itu.

Kurang lebih baru berjalan dua tahun Sang Sekdes merubah sendang Widoro Kandang menjadi tempat obyek wisata dan akhir Maret 2018 mulai membuat gerakan menanam bungan seribu bunga yang dilakukan oleh seluruh prangkat desa, anak-anak sekolah tingkat SD/Min se – kecamatan Parang serta didukung seluruh masyarakat Desa Mategal.

Kepala desa Mategal menyerahkan bunga untuk ditanam kepada Camat Parang serta seluruh Forkopinca Kecamatan Parang

Disela-sela acara Camat Parang Drs Umar Said S.H Msi. mengatakan, dalam rangka inovasi desa yang diarahkan kepada Desa Wisata, maka itu dharapakan masing-masing desa se-Kecamatan Parang memiliki potensi wisata, sesuai dengan Nawacita bahwa pembangunan dimulai dari Desa, termasuk di Desa Mategal ini, pemberdayaan masyarakat di Desa Mategal ini, merupakan inovasi untuk meningkatkan PAD Desa yang di arahkan kepada Desa Wisata. “Dimulai dari sumber daya alam yang ada di dukuh Ngasiran, Desa Mategal terdapat sumber daya air berupa sumber (Sendang widoro kandang). kedepanya diharapkan semua Desa se-Kecamatan Parang punya prodak sendiri – sendiri untuk menopang PAD didesa tersebut,”ucapa Umar.

Lanjutnya, untuk seluruh komponen masyarakat, lembaga desa, lembaga sosial masyarakat, termasuk pemerhati dan pemelestari lingkungan diminta kerjasamanya yang baik, demi tercapainya kelestarian lingkungan hidup. karena sumber mata air ini untuk anak cucu kita. “Sendang Widoro yang terkenal dengan airnya yang bersih ini, dapat dikomsumsi oleh seluruh masyarakat dan dijadikan tempat wisata,”terang Camat Parang.

Kecamatan Parang berada dikawasan 3B (Bancak, Bungkok, dan Blego). Bancak dengan sumber airnya yang luar biasa akan diupayakan kolam renang, Blego dengan puncaknya yang dikelola oleh Desa Trosono. “Parang terdapat batik tulis, namanya batik selo yang sekarang ini dikembangkan oleh Desa Pragak, sedangkan Desa Mategal, Kelurahan Parang dan Ngaglik merupakan centralnya untuk ternak Kelinci dan ternak ayam,”terang Uamar kepada para awak media.

Ketua HKTI Kabupaten Magetan Harun Sunarso ikut melakukan penanaman bunga

Harun Sunarso, Ketua HKTI sangat mendorong pemerintah Desa Mategal mempuyai inisiatif untuk mengembangkan potensi desanya, sehinga bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar. “Dengan adanya pembudidayaan Agrek dan tanam seribu pohon di Taman Widoro, tentu akan menambah inkam bagi masyarakat dilingkungan Desa Mategal, HKTI akan terus mengawal dan memberikan masukan untuk pembudidayaan angrek yang ada disini. karena Agrek asli parang belum ada, kita akan datagkan dari daerah lain yang cocok iklimnya dengan daetah Kecamatan Parang yang pegunungan,”ucap Harun.

Kepala Desa Mategal Sugiono mengatakan bahwa Pemerintah Desa Mategal menuju Desa Wisata upaya mengurangi mainside masyarakat Desa yang selama ini menjadi kantong TKI/TKW ke luar negeri dengan membuka lapangan pekerjaan.

“Taman wisata ini nantinya akan kita arahkan ke Pasar Desa untuk menjadi BUMDes. Masyarakat pun mulai sadar akan sumber daya ini dan bersinergis dengan Pemerintahan Desa, dengan tujuan untuk 2 tahun kedepan, kami tidak akan meberatkan dana desa (DD), kita ingin maksimalkan PAD kita sendiri dari yang kita jalankan disini, bukan dari pemerintah Daerah,”pungkas Sugiono. (Gal)

News Feed