oleh

Persemag Magetan Bakal Di Coret dari PSSI, Absen 3 Tahun Liga Nusantara

Seratus orang lebih Sporter Persemag Magetan Protes dengan Rasa Kecewa Tidak Bisa Mengikuti Kompetisi Liga Nusantara 2018, Minggu (4/3/2018)

Beritatrends.com, Magetan – Rasa kecewa para sporter Persemag karena klubnya tidak bisa berlaga di Liga Nusantara, berjumlah kurang lebih seratus orang mereka akhirnya mengadakan aksi di Stadion Yosonegoro Magetan atas rasa kekecwaannya bahwa sudah tiga tahun Persemag tidak bisa mengikuti Kompetisi Liga Nusantara yang diadakan PSSI Jawa Timur.

Sangat malang nasib persepakbolaan di Magetan, hal ini memang dalam kondisi terpuruk. Bagaimana tidak pembanguan Stadion Yosnegoro menjadi mangkrak karena dua tahun di lelangkan gagal. Hal ini mengakibatkan sepak bola Mageran juga kena peringatan dari PSSI karena sudah dua kali tidak ikut liga Nusantara.

Memang pada tahun 2017 yang lalu Asosiasi Kabupaten,  Perserikatan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Askab PSSI) pernah melakukan seleksi pemain untuk persiapan Liga Nusantara Tahun 2018 yang menggelar kompetisi antar klub atau usia bebas, di Lapangan Tanjung Sepreh Maospati Magetan, namun untuk pendaftaran Liga Nusantara Tahun 2018 yang terakhir penutupan tanggal 28 Pebruari 2018 yang mewakili Magetan juga tidak ikut mendaftar.

Askab PSSI Magetan, sebenarnya harus berupaya keras agar bisa berkompetisi di Liga Nusantara, karena sudah dua tahun tidak mengikuti dan kalau tahun 2018 tetap tidak mengikuti artinya sepak bola Magetan atau Persemag telah tiga tahun berturut-turut absen di Liga Nusantara kemungkinan Askab PSSI Magetan mendapat peringatan khusus dari pengurus PSSI pusat bisa dibilang akan di coret dari daftar.

Ketua Askab PSSI Magetan, Tomo menjelaskan, untuk Askab PSSI Magetan untuk tahun 2017 sudah melakukan seleksi pemain terbaik untuk maju ke Liga Nusantara, namun dengan keterbatasan biaya yang diperoleh Askab PSSI Magetan kurang lebih sebesar seratus juta apa ya mungkin kita bisa mengikuti Liga Nusantara di Tahun 2018.

“Uang segitu kita sudah melakukan kegiatan seperti mengadakan kompetisi kelompok umur 12 tahun ke bawah, 12 tahun sampai 18 tahun dan 19 sampai 22 tahun terus kita ini harus pakai uang dari mana lagi, ini kalau tidak dianggarkan tentunya untuk mengikuti Liga Nusantara kayaknya kita tidak bisa,”ujar Tomo kepada Beritatrends, Minggu (4/3/2018).

Lanjunya, hal ini memang harus duduk bersama untuk mewujudkan menuju Liga Nusantara antara Askab PSSI, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Koni, DPRD dan Pemerintah Kabupaten Magetan untuk membicarakan kedepannya.

Ditempat yang berbeda Ketua KONI, Sopiyan mengatakan, tugas kami adalah mengurusi Cabang Olahraga (Cabor) sesuai anggaran yang telah ditetapkan, kalau masalah sepakbola itu sudah langsung ke Askab PSSI yang mengelola,

“Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghidupkan persepakbolaan di Magetan. Beberapa kendala dihadapi Askab PSSI. Mulai dari dana hingga fasilitas. Sehingga tidak heran beberapa pemain bola berpotensi asal Magetan, justru memilih bermain di luar daerah. Karena Askab hanya punya dana sekitar seratus juta dan kegiatan semua harus jalan sedangkan liga di diluar kewenangan Askab PSSI Magetan, sebab masalah finansial karena adanya Permendagri No. 22/2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah memang menghambat. Salah satu poin menyebut bahwa pendanaan organisasi cabang olahraga (cabor) profesional tidak dianggarkan dalam APBD,”ucap Sopiyan kepada Beritatrends, Minggu (4/3/2018).

Artinya menjadi tanggung jawab induk organisasi cabor yang bersangkutan. Ini dijadikan pelecut semangat untuk menggali dana dari pihak swasta.”Makanya perlu upaya dan kerja keras untuk mencari sokongan dana,”katanya.

Pengamat Sepak Bola Magetan sekaligus mantan pemain sepak Bola di era tahun 80 an juga sebagai pelatih Hawe Purnomo mengatakan, Pemkab harus lebih peka dengan vakum menahunnya Persemag dalam kompetisi. Sebab, sepak bola menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat. Pemkab harus punya terobosan untuk menarik para investor. Demi mewujudkan itu, perlu pemikiran kreatif, salah satunya menghidupkan klub-klub dengan membuat turnamen berdasar kelasnya. Juga mengagendakan invitasi untuk kategori anak-anak. “Pasti didukung dari kalangan suporter seperti Magmania, Kabut Lawu, Magetan Fans, Macan Lawu dan lain-lainya,”jelasnya.

Lanjut Purnomo, tidak hanya inovasi kegiatan sepak bola, Pemkab juga perlu mencoba pendanaan dari segmen lainnya. Dia sepakat jika sokongan dana bisa dilakukan dengan konsorsium BUMD atau BUMN. Salah satunya dengan memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR). Sutikno meyakini jika hal itu sangat mungkin diterapkan. Pun menjadi solusi dari keterbatasan penggunaan APBD,”Memang betul semua tinggal di pimpinannya. Memperjuangakan Persemag atau tidak,’’ucapnya.

Begitu juga dengan KONI yang harus bisa detail dalam mengumpulkan rencana kerja masing-masing cabang olahraga (cabor) yang dibawahi. Termasuk kebutuhan anggaran ketika menggelar kompetisi internal, antar kabupaten, regional Jatim. “Tujuannya agar orientasi pembinaan pemain muda saat ini bisa maksimal,”pungkasnya. (Gal)

 

News Feed