oleh

Sampah Jarang di Angkut Mengganggu Belajar Mengajar SMKN 1 Magetam

Exif_JPEG_420

Bukti kurangnya perencanaan yang mengakibatkan salah satu tempat pembuangan sampah (TPS) yang berada di Jalan Kartini Tepatfnya di Pojokan SMKN 1 Magetanf berserak seperti tidak perfnah diambil oleh pihak DLH, Rabu (21/2/2018)

Beritatrends.com, Magetan –  Pantaskah Kabupaten Magetan mendapatkan Piala Adipura ? karena masih ada terjadi penumpukan sampah bahkan, sudah sebulan sampah yang berada di Jalan Kartin tidak diambil oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang selaku pihak yang bertanggung jawab tentang sampah, namun ini semua apa juga termasuk rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, permasalahan sampah tentunya akan menjadi polemik Kabupaten Magetan seperti yang terjadi di ujung SMKN 1 Magetan yang juga berbatas dengan kali.

Panjul Pedagang Pentol yang mangkal di depan SMKN 1 mengatakan, sebelum-sebelum hal seperti ini tidak pernah terjadi karena saya mangkal di sini sudah lehih dari lima tahun, baru kali ini sampah bisa sampai menumpuk, sepertinya tidak pernah diambil oleh petugasnya,

“Memang dua minggu yang lalu ada pengambilan sampah dari DLH tapi tidak semuanya diangkut, separuh dari yang ada juga tidak, dan pada saat diambil baunya luar bisa apa lagi sekarang dari jarak lebih dari 20 meter sudah bau,”ucapnya kepada Beritatrends.com, Rabu (21.2/2018).

Dibenarkan oleh salah satu warga yang tak mau menyebut namanya mengatakan, kemarin saya mau hajatan mantu saja sampai tak pidah ke PPI, padahal saya sudah berusaha untuk menutupnya dengan Gedeg agar sampah tidak berserakan, tapi yang namanya bau yan tetap bau mas.

“Saya sudah melaporkan hal tersebut kepihak DLH pas saya mau mantu tapi tidak juga diambil, dengan terpaksa hajat matu tersebut kami pindahkan tempatnya di PPI dari pada menjadi omongan para tamu undangan yang kami undang,”jelasnya.

Ditambahkan Rahmah salah satu siswi yang belajar di SMKN 1 Magetan itu menjelaskan, sebenarnya kami sangat terganggu sekali dengan adanya Tempat pembuangan sampah di depan pojokan sekolahan kami itu, selama hampir sebulan ini kami selalu menghirup aroma yang tak sedap, terus terang kami tak nyaman untuk mengikuti pelajaran.

“Terus terang kami merasa tidak bisa nyaman untuk mengikuti pelajaran, karena baunya sampah sampai masuk keruangan kelas kami, tapi kamu mau protes sama siapa kami sudah protes ke Kepala Sekolah dan Kepala Sekolah katanya sudah laporan ke dinas terkait,”kata Rahmah.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agung Lewis, saat dihubungi Beritatrends.com melalui Ponselnya mengatakan maaf mas saya masih diluar kota, ini akan saya hubungi langsung ke Bidang kebersihan agar segera dilakukan tindakan sampai tuntas dan terima kasih atas infonya.

Marwidi Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan, mengaku sudah mendapat laporan dua minggu yang lalau dan kita sudah lakukan pengangkutan saat itu juga tapi tidak semuanya kami angkut karena keterbatasan tenaga. Meskipun begitu, dirinya berjanji akan mengecek dan segera melakukan penertiban dan pengangkutan.

“Kami sudah terima laporan dua minggu yang lalu dan hari ini kami berupa untuk melakukan tidakan, seharusnya masyarakat mempunyai cara untuk membuang jangan di tempat pembuangan sampah yang di sediakan, bisa dengan cara di tanam, kalau di buang semua ke tempat pembuangan sampah seperti sekarang tentunya volume semangkin bertambah, sedangkan masyarakat minta pelayananan yang prima dari kami dan ketepatan tenaga kami sangat minim jumlahnya,”ucap Marwidi kepada Beritatrends.com.

Tambahnya, memang untuk awal tahun 2018 Dinas Lingkungan Hidup telah memberhentikan 70 orang tenaga orsorsing dan sekarang tinggal 39 orang jadi untuk pengangkutan bergilir sebab kekurangan tenaga.

Akhirnya Ngo Walidasa bagian Infestigasi Mulyadi Jenggot angkat bicara, di RUP sudah dianggarkan : Belanja Jasa Kebersihan dalam Kota, angkutan sampah salter dan composting Rp. 196.000.000,- pengadaan langsung dan Belanja Jasa Kebersihan dalam Kota, angkutan sampah salter dan composting Rp. 1.892.623.550 seharusnya segera dilelangkan biar tidak terjadi penumpukan di mana-mana, masa hampir setiap tahun selalu demian yang terjadi, seharusnya belajar dari pengalaman yang pernah terjadi dan seharus nya hal seperti ini tak akan terjadi lagi.

“Hal yang berulang – ulang kok selalu dipertahankan, apa tidak malu dengan Piala yang di peroleh Kabupaten Magetan yakni Adipura, jadi curiga dengan dengan piala Adipura itu seolah – olah sebuah rekayasa bagaimana biar mendapatkan Adipura pura tersebut,”kata Mulyadi Jenggot kepada Beritatrends.com, Rabu (21/2/2018).

Seharus untuk penanganan sampah kasih pada ahlinya biar tidak terjadi penumpukan, jangan sampai lelang tersebut yang seharusnya jumlah orangnya pengangkut itu ada 120 orang tapi buktinya hanya 50 orang itulah yang terjadi di Magetan selama ini. (Red)

 

News Feed