oleh

NGO Walidasa Persoalkan Pengadaan Burung Jalak

sangkar burung jalak Mojosemi Sarangan

 

Magetan, beritatrends – Pada Tahun 2017 kemarin di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan ada kurang lebih sekitar 49 kegiatan di penyedia dan 93 kegiatan Swakelola, salah satu kegiatan yang tertuang dalam Sirup LKPP ada dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan.

Mulyadi Divisi Infestigasi Ngo Walidasa Cabang Kabupaten Magetan mengatakan, proyek belanja Modal Gedung dan Bangunan – Pengadaan Bangunan tempat kerja – belanja pembuatan sangkar senilai Rp. 15.000.000,- Perencanaannya Rp 1.250.000,- dan Pengawasannya Rp. 1.000.000,- seharusnya itu penempatanya bukan ditempat wisata seperti di Mojosemi karena untuk penangkaran.

“Kalau yang namanya penagkaran itu diberikan kepada kelompok yang benar-benar paham dengan penangkaran, apa lagi penangkaran tersebut untuk burung yang langka,”ucap Jenggot panggilan akrab Mulyadi.

Lanjut Jenggot, Proyek Pembuatan Sangkar Burung dengan SPK Nomor 15/PBJ/SB/403.110/2017 dengan total nilai kontrak Rp. 14.020.000,-, Pelaksana CV. Wijaya Prakarsa yang menggunakan dana APBD Tahun Anggaran ini dikerjakan selama enam puluh hari kerja di akhir tahun 2017.

“Setelah kandang jadi langsung dimasukan burung jalak yang katanya langka itu sebanyak Lima pasang, tapi setelah kami cek dilapangan hanya empat pasang, yang satu pasang mati, hal ini yang bisa kita katakana salah karena pihak penerima bukan yang ahli dalam penangkaran,”kata Jenggot.

Ditempat yang berbeda Budiarto Kepala Bidang Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan saat ditemui awak media menjelaskan, saya masuk ke DLH baru bulan Agustus 2017, jadi saya hanya melanjutkan kepala bidang terdahulu.

“Untuk pengadaan sangkar burung dan burung itu kami letakkan di salah satu wahana pariwisata di Mojosemi itupun bukan kepada PT yang mengelola tapi kami berikan kepada LMDH yang tergabung di Mojesemi,”ucap Budi.

Lanjut Budi, rencana burung tersebut memang kalau sudah beranak pinak anaknya akan dikembalikan kealam dan awanya untuk pengadaan makan akan di suplai dari dinas selama sepuluh bulan namun tidak jadi, hanya dilakukan sampai dua bulan saja.

“Sisa dana untuk makanan burung kami kembalikan ke Kasda, untuk sementara memang kami belum paham benar apakah tempat tersebut sudah pas atau belum untuk di taruh sebagai penagkaran,”ucap Budi.

Pengelola Mojesemi, Arif saat dihubungi Pojok Kiri  via Hand Phonya mengatakan, kami tidak tahu mas mengenai peletakaan penangkaran burung di lokasi Wahana Mojesemi coba tanyakan ke Mas Topan mungkin tahu asal-usulnya peletakaan penangkaran tewrsebut. (G.Lih)

News Feed